Menghitung Peran Freeport Terhadap Pasokan Tembaga Dunia

PT Bestprofit

Jakarta,  — Polemik antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia nampaknya belum menemui titik temu. Bahkan, kini drama antara keduanya telah mencapai babak baru.

Perusahaan yang berbasis di Phoenix, negara bagian Arizona, Amerika Serikat (AS) ini mengancam akan membawa pemerintah ke arbitrase internasional karena dianggap tidak mematuhi Kontrak Karya (KK) yang ditandatangani kedua belah pihak pada 2001 silam.

Di samping itu, Freeport juga enggan mematuhi keinginan pemerintah untuk mengubah status menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) jika kebijakan fiskalnya tak sesuai dengan ketentuan KK.

Sebenarnya, mengapa Freeport sangat protektif dengan operasionalnya di Grasberg? Apakah kontribusinya begitu signifikan terhadap produksi tembaga dunia?

Menilik data survei geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey), total produksi tembaga dunia tercatat sebesar 19,4 juta metrik ton di tahun 2016. Daftar di bawah ini merupakan 10 negara dengan produksi tembaga terbanyak di dunia:

1. Chile – 5,5 juta metrik ton
2. Peru – 2,3 juta metrik ton
3. China – 1,74 juta metrik ton
4. AS – 1,41 juta metrik ton
5. Australia – 970 ribu metrik ton
6. Republik Demokratik Kongo – 910 ribu metrik ton
7. Zambia – 740 ribu metrik ton
8. Kanada – 720 ribu metrik ton
9. Rusia – 710 ribu metrik ton
10. Meksiko – 620 ribu metrik ton

Chile menjadi negara produsen tembaga terbesar dunia dengan pasokan 5,5 juta metrik ton tahun lalu. (REUTERS/Ivan Alvarado)

10 negara ini menghasilkan tembaga sebesar 15,62 juta metrik ton, atau mengambil 80,51 persen dari total produksi tembaga dunia.

Sebagai catatan, posisi Peru naik satu peringkat mengalahkan China gara-gara produksinya melesat signifikan 600 ribu metrik ton pada tahun lalu. Selain itu, peringkat Zambia naik dua tingkat setelah produksinya bertambah 28 ribu metrik ton pada periode yang sama.

Saat ini, tambang tembaga terbesar di dunia berada di Escondida, Chile dengan produksi mencapai 1,2 juta metrik ton, yang dikelola oleh perusahaan asal Australia, BHP Billiton Ltd.

Beralih ke tanah Papua, produksi tambang Grasberg yang dikelola Freeport Indonesia tercatat sebesar 482,16 ribu metrik ton yang dikutip dari keterbukaan Freeport-McMoran Inc. Angka ini mengambil 2,48 persen produksi tembaga dunia tahun lalu.

Jika digabung dengan jumlah produksi tembaga AS, maka produksi Freeport Indonesia yang dikeruk dari tanah Papua menyumbang 34,19 persen dari total produksi negara Donald Trump. Wajar jika kemudian, Freeport Indonesia melakukan berbagai cara untuk memastikan kegiatan ekspornya tidak terganggu.

Di samping itu, produksi Freeport Indonesia juga tidak lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah operasional Freeport-McMoran lainnya yang terdapat di Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Di Amerika Utara, Freeport-McMoran mengelola tujuh pertambangan terbuka di negara bagian Arizona dan New Mexico dengan produksi mencapai 830,52 ribu metrik ton pada tahun lalu.

Sedangkan aktivitas pertambangan tembaga di Amerika Selatan dilakukan di tambang Cerro Verde di Peru dan tambang El Abra di Chile dengan total produksi mencapai 602,37 ribu metrik ton.

Tambang Freeport di pegunungan Grasberg, Papua. (REUTERS/Muhammad Yamin).

PT Bestprofit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s