7 Peraturan Tidak Tertulis Dalam Sepakbola yang Tak Diketahui Banyak Orang

Sepakbola, olahraga universal yang digandrungi oleh suporter setianya dimanapun mereka berada. Drama yang kerap terjadi saat 22 orang saling berebut bola, dengan tujuan mencetak gol, menjadi sajian menarik kaum adam ataupun hawa.

Tak hanya dari segi permainan, drama juga terjadi di banyak aspek seperti melibatkan adu taktik dua manajer atau pelatih, cerita di luar pertandingan, dan juga keputusan wasit yang acapkali merugikan salah satu pihak.

Berbicara wasit tak jauh dari peraturan. Dan kebanyakan orang yang menyukai sepakbola, mengerti peraturan-peraturan dasar seperti offside, penalti, dan pelanggaran yang berbuah tendangan bebas jika terjadi di luar kotak penalti.

Itu hanya beberapa peraturan tertulis yang banyak diketahui khalayak umum. Namun, bagaimana dengan regulasi yang tidak tertulis, alias tidak diketahui banyak orang? Meski tak diketahui banyak orang, regulasi itu tetaplah penting sebagai wawasan tambahan mengenai sepakbola, dan berikut regulasi-regulasi tidak tertulis itu.

1. Larangan untuk Pemain Pengganti

Manchester United FC v PSV Eindhoven - UEFA Champions League

Tiga pergantian pemain boleh dilakukan dalam pertandingan resmi, dan pergantian kerap dilakukan saat tendangan bebas, lemparan ke dalam, sepak pojok atau tendangan gawang.

Dari segala momen itu, pemain pengganti dilarang melakukan lemparan ke dalam dan mengambil sepak pojok langsung, karena kedua hal itu dilakukan di luar garis lapangan. Pemain pengganti hanya boleh melakukan tendangan gawang atau bebas.

Seorang pemain pengganti baru boleh mengambil lemparan ke dalam atau sepak pojok, kala ia telah memasuki lapangan.

2. ‘Back pass’ kepada Kiper yang Tetap Dianggap Pelanggaran

Bradford City v Northampton Town - npower League Two

Dalam aturannya, kiper boleh menangkap bola back pass pemain timnya, jika sang pemain memberikan bola dengan kepalanya, atau bagian-bagian tubuh lain selain kaki sang pemain.

Namun ada juga operan kepala yang juga dianggap back pass dan harus dihukum, dengan tendangan bebas di dalam kotak penalti. Hal itu terjadi kala pemain memindahkan bola dari kaki, ke dadanya, lalu ke kepala dan menanduknya lemah menuju kiper.

Meski kiper tak menangkap bola itu, wasit tetap diperbolehkan meniup peluit untuk melakukan tendangan bebas di kotak penalti. Sang kiper hanya bisa mengantisipasi bola di momen tersebut, dengan menendangnya kembali, atau membuangnya jauh-jauh ke depan untuk menjadi serangan.

3. Tak Semua Sentuhan Tangan Berbuah Handball

Bayer Leverkusen v FC Augsburg - Bundesliga

Teriakan ‘hand, hand!’ kerap dilontarkan penonton atau suporter pertandingan, kala melihat tim lawan menyentuh bola dengan tangannya. Kadangkali sentuhan itu berbuah tendangan bebas atau penalti untuk tim, namun di lain waktu juga sering tidak dianggap hand oleh wasit.

Memang, tak semua keadaan bola menyentuh tangan pemain dikategorikan dengan handball. Aturan itu baru aktif, jika seorang pemain dengan sengaja menyentuh bola, namun jika pemain tak sengaja menyentuh bola, wasit boleh tidak menganggapnya sebagai pelanggaran dan menghukum sang pemain dengan kartu.

Suporter harus lebih jelas melihat tayangan ulang, sebelum benar-benar berteriak handball.

4. Kiper Dilarang Memantulkan Bola

Energie Cottbus v RW Erfurt  - 3. Liga

Satu-satunya posisi dan pemain yang diperbolehkan menggunakan tangannya selama pertandingan, adalah kiper. Namun penjaga gawang harus mengingat, bahwa mereka sedang bermain sepakbola, bukan bola basket.

Kiper dilarang memantulkan mendribel dan memantulkan bola menggunakan tangannya. Jika ia melakukannya, maka sang penjaga gawang akan dihukum cukup berat, dengan kartu kuning.

“Seorang kiper tak bisa memegang bola kembali setelah ia melepaskan bola dari penguasaannya (di antara tangan dan lengannya), hingga pemain lain menyentuhnya,” bunyi peraturan yang ditulis, namun jarang diketahui banyak orang.

5. Kesepakatan ‘Fair Play’

Norwich City v Arsenal - Premier League

Aturan ini lebih bersifat rasa keadilan alias menjunjung slogan fair play. Kesepakatan tak tertulis di antara kedua tim kala tengah bertanding, yakni salah seorang pemain terkapar di lapangan akibat cedera.

Normalnya, pemain yang memegang bola, terutama pemain lawan, menghentikan permainan dan menendang bola ke luar. Hal ini dilakukan untuk menghormati pemain yang cedera, agar ia mendapatkan perawatan dari tim medis, dan setelahnya, wasit biasanya memainkan drop ball. Memberikan bola kepada lawan untuk ditendang balik ke kiper lawannya, atau menendang bola keluar.

Seringkali saat momen seperti itu terjadi, pemain lawan yang tengah mengontrol bola kesal, apalagi jika mereka dalam kondisi tertinggal dan tengah membangun serangan. Regulasi ini tak pernah tertulis dalam buku aturan, namun ditegakkan untuk menjaga sportivitas pertandingan.

6. Waktu Tepat Meniupkan Peluit Tanda Habisnya Pertandingan

Torino FC v Genoa CFC - Serie A

Wasit kerap meniupkan peluit tanda habisnya pertandingan, setelah masa tambahan waktu telah berakhir. Hal yang benar, namun meniup peluit tersebut tak bisa dilakukan kapanpun, meski waktu tambahan telah berakhir.

Seorang wasit baru bisa meniupkan peluit panjangnya, saat bola berada di udara kala kiper melakukan tendangan gawang, atau saat bola melewati lini kedua alias lini tengah.

Salah bagi wasit apabila meniup peluit panjangnya saat bola masih berputar di salah satu kotak penalti lawan, terutama dalam keadaan menyerang. Peraturan yang simpel, namun tak semua orang mengetahuinya.

7. Wasit Garis Juga Bisa Diberi Kartu Merah

A-League Rd 6 - Melbourne v Western Sydney

Siapa bilang wasit kebal dari pengusiran. Sang pengadil lapangan ternyata juga tidak kebal dengan kartu merah, dan juga bisa diusir laiknya pesepakbola yang sedang atau tidak bertanding.

Seorang wasit garis bernama John Smith pernah memprotes keputusan wasit utama pertandingan, Tony Wells, karena dianggapnya tidak adil memberikan penalti di laga Andover and District Sunday League, sebuah liga di Inggris yang mengirim klub pesertanya ke tingkat Hampshire Premier League Division One pada 2012.

Kesal dengan Wells, Smith disinyalir berucap “Anda memalukan” kepada Wells hingga ia mendapatkan hukuman terkait pelanggaran dalam bersikap. Wells yang disalahkan bersikeras bahwa ia tidak bersalah, dan memberlakukan kedua tim dengan adil, ia pun tetap dengan keputusannya mengusir Smith keluar lapangan.

“Tony Wells datang dan berkata (kepadanya) untuk memberikan bendera, dan meminta pergi dari area bermain. Saya sekarang telah diseret sebelum FA. Tapi saya akan melakukan banding – untuk menyangkal saya menyumpahinya. Dia memberikan penalti yang mana saya tak menyetujuinya,” ucap Smith kala itu.

 

PT Bestprofit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s